Saturday, February 04, 2006

Perjalanan : Daerah Dingin di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat

Perjalanan, kenapa saya suka yang namanya perjalanan ya ? mungkin karena banyak pengalaman baru yang di dapat, banyak pemandangan indah yang dilihat, atau banyaknya ibrah atau pelajaran yang bisa dipetik dari banyak peristiwa yang dilalui pada saat jaulah : berjalan.

Ada beberapa perjalanan yang telah saya lakukan, yang berjalan kaki itu yang terlama 4 hari 1 malam waktu ikut Mukhayyam Gelombang pertama Pandu Keadilan Partai Keadilan Sejahtera. Perjalanan ini dari Malino - Kebun Teh : Kabupaten Gowa, melewati banyak gunung tinggi sampai ke kabupaten Maros Sulawesi Selatan. Mukhayyam ini tidak sekedar perjalanan biasa, tapi banyak games, pelajaran survival dan lain-lain yang di dapat. Kita malah merasa betapa kecilnya kita ... bagaikan sebutir debu ditengah padang pasir yang luas.

Malino itu daerah yang dingin. Tapi kalo kita berjalan kaki sebaiknya tidak memakai jaket karena akan kepanasan, tapi kalo tidur, baru pake jaketnya :D.

Perjalanan dengan kaki ini juga pernah saya lakukan waktu survey di daerah kecamatan Rampi Kabupaten Luwu Utara Sulawesi Selatan. Berbeda dengan Mukhayam yang persiapannya matang, ini dengan persiapan apa adanya (sisa dari Mukhayyam), saya dan 2 orang teman melakukan perjalanan yang juga medannya mirip yaitu melalui gunung-gunung dan sungai. Bahkan ada yang sampai ketinggian 1900m dan kemiringan 70 derajat. Subhanallah. Jangan ditanyakan capeknya. Karena perjalanan itu 2 hari 2 malam dengan medan yang sulit. Setelah sampai di Kec. Rampi, semua tulang kayak sudah mau patah. Apalagi cuaca yang sangat dingin dan untuk shalat subuh harus ke sungai berwudhu dan airnya ... brrrrrgh ... dingiiin :).

Salah satu perjalanan yang melewati banyak bukit dan gunung lagi waktu ke Kabupaten Mamasa Sulawesi Barat. Ini beda, sudah tidak jalan kaki lagi tapi naik mobil penumpang. Jalanannya berlubang-lubang. Kita di atas mobil terguncang2 selama 5 jam. Kepala sering terbentur di kaca mobil atau di atap mobil. Medannya mirip waktu ke Rampi hanya saja jalanan lebih datar dan lebih lebar seperti jalan raya. Di kiri-kanan jalan sudah ada tiang-tiang listrik. Kota Mamasa sendiri berupa gunung-gunung, dan seandainya sudah ber-aspal bagus, mungkin akan mirip dengan Malino.

Dari 3 sample perjalanan ke daerah dingin di atas banyak pelajaran yang bisa dipetik dan ada 1 pertanyaan karena ada kesamaan dari 3 tempat itu yaitu banyak gereja. Kenapa banyak gereja ?. Dan kenapa di daerah yang dingin dan jauh itu ?. Apakah mungkin karena di daerah dingin itu banyak pohon pinus yang membuat kesamaan dengan saat natal ?.

Saya salut dengan saudara-saudara kita yang di jamaah tablig yang bisa tembus ke daerah2 tersebut untuk berdakwah, hanya saja tidak ada pembinaan selanjutnya. Saya merasa tenang jika mendengar azan subuh di daerah2 dingin itu.

"Jalan ini jalan panjang, penuh aral yang melintang, namun kita tetap harus melaluinya hingga agama ini hanya untuk Allah SWT". Allahu Akbar.
Post a Comment
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...